Jumat, 21 Januari 2011

LOVE IN PARIS

Luna,cewek 15 tahun,yang mendapatkan beasiswa di sebuah high school terkenal di kota Paris, Perancis. Luna tak pernah menyangka bahwaParis akan mengubah hidupnya.
Dimulai dari teman satu apartemennya yang kemudian menjadi cewek yang paling membenci Luna, bernama Tika.
teman baru bernama Rivi.Sampai.... seorang cowok bernama Dhani.
Dhani, murid senior, tajir dan keren. Hubungannya dengan Luna seperti anjing dan kucing, lalu kemudian berubah menjadi teman dekat Luna hingga bahkan membuat  Luna jatuh cinta.
Namun ketika mereka bertambah dekat dan Luna mulai mencintai Dhani, Dhani justru malah mengecewakannya. Sikap Dhani, kesombongannya,keegoisannya,semua perbuatannya hanya untuk mengecewakan Luna demi kesenanganya sendiri,
menyebabkan Luna gagal dalam pelajaran. Luna terlalu sibuk mengurus Dhani, sementara Dhani terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri.
Luna pun memutuskan untuk menjauhi Dhani, ketika kemudian Rivi yang mulai jatuh cinta pada Luna.
Di saat kerenggangan hubungan itu, Dhani mulai merindukan Luna dan menyadari bahwa sebenarnya ia mencintai cewek itu.
Tapi sekarang sudah ada Rivi.
Luna harus memilih. Rivi atau Dhani... untuk menemukan cinta sejatinya di sebuah kota Paris.
Sambil bengong di tempat tidur,Luna berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam. Perjalanan dari Jakarta ke Paris. Setengah jam kemudian Luna bersiap untuk berangkat ke kampus. Rambutnya yang panjang memakai bando putih, membuatnya makin cantik.
Saat tiba di kampus dia (Luna) langsung aja mencari dimana letak ruang kelasnya, saat berjalan dan mencari-cari dia bertemu dengan seorang cowok tinggi,putih, mengenakan kemeja biru di baluti dengan jaket berwarna merah yang kemudian menegurnya,"Anak baru ya." kata si cowok itu pada Luna," iya." sambung Luna,
"gwe Rivi."sambil menyodorkan tangannya pada Luna "Luna," jawab luna dengan pelan, kemudian mereka berdua berjalan bersama menyusuri koridor kampus,di sela-sela berjalan mereka asik ngobrol.
Tak terasa mereka berjalan sudah ada di depan kelas Luna, "ini kelas lo,"dengan menunjuk ruang kelas yang ada di hadapan mereka,"thnks ya udah nganterin,"sambung Luna,"sama-sama" jawab Rivi. Saat jam pelajaran berakhir Luna yang tadinya ingin pergi ke kantin menjadi berubah pikiran,ia lalu pergi ke perpus yang tempatnya berada di sebelah kantin,
Luna mulai berjalan menyusuri rak-rak buku dan mulai mencari-cari buku apa yang kira-kira ia sedang butuhkan. Dia terhenti di deretan rak buku matanya tak mengarah ke arah buku-buku itu di tata. tapi ia tertuju pada seorang laki-laki yang duduk kebingungan di depan beberapa buku yang sedang ia kerjakan, Luna yang niatnya mau mencari buku malah mau nyari tau apa yang sedang di kerjakan oleh cowok itu.
"Segitu susahnya ya nyusun skripsi,"suara Luna langsung memecah kesunyian."lo ngomong sama gue,"jawab cowok itu dengan ketusnya,"ngomong sama tembok."
jawab Luna, "gwe Luna,"menyodorkan tangannya ke arah cowok itu "gwe Dhani," jawab Dhani dengan nada sengak, Luna yang tadinya berdiri mulai menarik bangku dan duduk di sebelah meja Dhani,"ngapaen lo, lo siapa,
main duduk aja."sahut Dhani.
"Ye,biasa aja dong, lagian emang kampus nih punya nenek moyang lo,"tandas Luna dengan nada sengak pula, "Pergi sana," imbuh Dhani
"Oh emang niat gwe mo pergi, gila masak gwe harus di sini nungguin orang aneh lagi kebingungan bikin skripsi," jawab Luna dengan nada keras, "Lo ngajak berantem," Dhani yang semula duduk kemudian bangkit dari kursinya dan nadanya sengak mengancam Luna.
Luna pun tanpa pikir panjang pergi meninggalkan meja tempat Dhani sedang marah-marah, saat keluar dari perpus dia tak sengaja bertemu Rivi yang mau masuk ke perpus, Luna yang dari perpus ampek keluar marah-marah sendiri akhirnya berhenti saat Rivi ada di hadapannya.
"Lun, are you okey," tanya Rivi
"Ya i'am well," jawab Luna, akhirnya Rivi ngajak Luna berjalan keliling kampus dan menanyakan kenapa dia (Luna) marah-marah sendiri. tak terasa mereka berdua sampai di taman belakang kampus mereka.
"Kenapa tadi kamu marah-marah sendiri keluar dari perpus," tanya Rivi ingin tau.
"Kok ada ya cowok tengil,nyebelin,blagu kayak yang namanya Dhani,"sahut Luna sembari bertanya pada Rivi, "Dhani panteslah kayak gitu, dia emang tajir dia disukai cewek-cewek mulai kalangan kita sampai bule,kadang cowok juga naksir." jawab Rivi sembari tersenyum. Luna tak menyangka bahwa di kampus masih ada teman yang baik seperti Rivi, Luna tak sadar bahwa Rivi menaruh hati padanya.
Hari-hari yang di laluinya bersama Luna membuatnya nyaman dan membuatnya merasa bahwa cewek ini sangat berpengaruh buat hidupnya, tak menyangka akan satu apartemen dengan Tika, cewek yang kehidupannya hanya di hiasi dengan hura-hura dan sering pulang larut malam dan sering membawa teman pria ke apartemen membuat Luna mulai merasa terganggu saat dia sedang mengerjakan tugasnya tak jarang dentuman suara musik disco mengalun cepat dan dengan volume yang kencang, "Tika lo apa-apaan sih."dengan menegur Tika yang pulang malam bersama teman-teman prianya, " matter what you, I do not set," jawab Tika dengan marah-marah pada Luna. "tapi ini udah malem Ka, gag enak sama orang." imbuh Luna menasehati Tika, "let this is my friends," sambung Tika dengan sengaknya. Luna yang tak ingin mempunyai masalah dengan Tika langsung menuju ke kamarnya, "kan niatku baik, aku hanya ingin ngasih tau dia (Tika) doang." Katanya dalam hati, dia lalu meneruskan tugasnya yang tadi tertunda.
malam pun berganti pagi, sinar matahari yang tampak menyinari apartemen menembus tembok lewat kaca jendela kamar Luna, "wah udah pagi aku harus cepat-cepat", gumam Luna, tanpa pikir panjang Luna langsung menuju kamar mandi, setibanya di depan pintu kamar mandi ternyata Tika lebih dulu masuk kamar mandi, Luna yang melihat jam dinding yang mulai menunjukan pukul 07.00 pagi membuatnya panik akan terlambat masuk sekolah, tanpa pikir panjang Luna langsung saja menggedor-gedor pintu kamar mandi sambil memanggil Tika yang sedari tadi asik di dalam kamar mandi, "Tika cepetan dong gwe telat nih, lo ngapaen sih lama banget, " teriak Luna, Luna terkejut saat Tika tiba-tiba membuka pintu,"you are very fussy," jawab Tika sontak mengagetkan Luna.
dengan cepat Luna langsung masuk kamar mandi, "odd basis," sambar Tika.
Luna langsung saja memakai baju warna hijau dengan topi yang menutupi rambutnya, dia langsung pergi ke sekolah. Sesampainya di kampus Luna tak sengaja nabrak Dhani waktu berjalan akan menuju ruang kelasnya, "sorry I do not accidentally," ucap luna sembari menata bukunya yang jatuh berserakan. "that road must wear eye," sambar Dhani dengan nada sengak,
"yeee ternyata elo, coba gwe tau dari tadi nggak sudi deh gwe minta maaf." imbuh Luna dengan geram." basic crazy girl, " imbuh Dhani, dan langsung aja dia ninggalin luna sendirian.
Luna bergumam" dasar cowok aneh, ih bikin emosi aja sih pagi-pagi," saat Luna sedang menata bukunya yang masih berserakan di lantai tiba-tiba, Rivi datang dan langsung saja membantu Luna, "are you okay," tanya Rivi pada luna " ya I am fine," jawab Luna, "emang tadi kenapa sih kok bisa jatuh," tanya Rivi sembari ingin tau "udah gag apa-apa kok,tadi cuman tabrakan aja sama cowok gila," imbuh Luna, Luna dan Rivi langsung aja pergi ke kelas mereka,"thanks ya udah nolongin," sambil tersenyum, ya udah aku masuk dulu ya, Rivi hanya memberikan senyum pada Luna.
dalam hati Rivi mulai merasa nyaman berada di dekat Luna.
Saat jam pelajaran telah selesai Dhani melihat Luna sedang masuk ke ruangan dosen, dengan cepat Dhani langsung ikut membuntuti Luna dan mendengarkan pembicaraan mereka. "you are a student who received scholarships,to go to school here." tanya sang dosen pada Luna, "yes I got a scholarship from Jakarta to attend school here", jawab Luna, Dhani yang sedari tadi menguping di balik pintu bergumam sendiri "ternyata dia anak Jakarta yang mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sini. Tak sadar bahwa Luna telah berdiri di hadapan Dhani,  "riarpun lo dapet beasiswa lo paling pinter," bentak Dhani pada Luna


Tidak ada komentar:

Posting Komentar